Kedudukan Sunan Muria Diantara Wali Sembilan

Membicarakan Sunan Muria, tentulah tidak lepas dari Wali Sembilan, karena Sunan Muria adalah termasuk salah seorang Wali Sembilan. Dan bila kita telah menyebut atau membicarakan Wali Sembilan, maka tentulah kita tidak bisa lepas dari masalah dakwah Islamiah yang ketika kurun di mana wali sembilan itu hidup, ada lah tidak bisa dilepaskan dari sejarah hidup Wali Sembilan itu sen diri.

 

Karena Wali Sembilan adalah sebagai peletak dasar batu per tama dalam menyiarkan agama Islam di tanah Jawa, maka mem bicarakan Sunan Muria juga tidak bisa lepas pula dari peranannya sebagai muballigh ketika itu. Maka untuk memahami uraian yang akan dijelaskan dalam bab ini, terlebih dahulu dijelaskan siapakah Wali Sembilan itu.

 

1.   Wali Sembilan (Wali Sanga).

 

Arti kata wali adalah dari waiiyullah (wali Allah) yang artinya kekasih Allah atau wakil Allah. Tentu saja arti kekasih Allah ada lah karena wali tersebut amat taqwa dan telah mencapai tingkat insan kamil, maka ia menjadi kekasih Allah. Dan arti wakil Allah adalah dalam bentuk lahir, bukan untuk dipuja dan disembah. Apa sesungguhnya kriteria untuk member! gelar seseorang sebagai Wall Allah yang hakiki, hal ini tidak akan dibicarakan di sini karena bukan tujuannya untuk dibicarakan dalam buku kecil ini.

 

Para Wali di tanah Jawa itu juga disebut Sunan, yang konon adalah berasal dari bahasa Tionghoa Hokkian = Suhu Nan, yang artinya pujangga, yang disebabkan karena ilmunya. Prof. Dr. Hamka member! arti Sunan ialah yang disuhun, dimohon. Artinya yang dimohon keramatnya, dan kata Sunan itu diadakan setelah para Wali Sembilan di tanah Jawa itu meninggal dunia. Dengan demikian maka kata Sunan bukan identik dengan semacam gelar bagi kebangsawanan Jawa. (Prof. Dr. Hamka dalam "Perkembangan Kebatinan," majalah Panji Masyarakat).

 

Adapun yang dimaksud Wali Sembilan atau Wali Sanga (ada yang menuliskan Wali Songo) di tanah Jawa adalah para muballigh dan penyiar agama Islam atau katakanlah peletak dasar batu per tama dari penyiaran Islam di tanah Jawa sejak Maulana Malik Ibrahim. Tentu saja karena namanya adalah Wali Sembilan, maka jumlahnya adalah sembilan orang. Tetapi tentang jumlah Wali '.gembilan ini ada juga perbedaan pendapat, karena masa atau jaman hidupnya para wali itu tidak satu generasi, maka wali sembilan itu walaupun selalu sembilan, tetapi namanya berbeda-beda karena setelah seorang wali meninggal dunia, maka konon para wali yang masih hidup bermusyawarah untuk menambah jumlah wali yang kurang dari sembilan karena ada anggotanya yang meninggal dunia untuk mengisi kekosongan jumlah anggota wali sembilan agar selalu genap sembilan orang.

 

Maka walaupun jumlah para wali itu lebih dari sembilan orang namurt kesemuanya itu ada di bawah bimbingan dan koordinasi "Wali Sanga" tersebut. Wali Sanga itulah yang mengkonsolidasi kan dan mengkoordinasikan segala kegiatan dakwah Islamiyah, maka boleh dikatakan bahwa Wali Sembilan itu merupakan sema­cam organisasi, semacam team yang beranggotakan sembilan orang terpilih.

 

 

Jumlah wali sembilan yang nama-namanya terkenal di kalang an masyarakat adalah :

1. Maulana Malik Ibrahim.

2. Sunan Ampel.

3. Sunan  Bonang.

4. Sunan  Giri.

5. Sunan  Drajat.

6. Sunan  Kalijaga.

7. Sunan Kudus.

8. Sunan Muria.

9. Sunan Gunung Jati.

 

Kecuali jumlah yang sembilan di atas, masih banyak nama-nama lain yang terkenal yakni antara lain Sunan Tembayat, Sunan Prawoto, Sunan Geseng, Sunan Mojoagung, Syekh Subakir, Maula na Ishak, Syekh Siti Jenar (sebelum murtadnya dari Islam) dan sebagainya.

 

Menilik masa hidup para wali tersebut ternyata ada di antara seseorang dengan lainnya amat berjauhan masa hidupnya, maka pendapat yang mengatakan bahwa jumlah wali sembilan itu memang selalu sembilan orang dan ketika salah seorang anggotanya meninggal dunia maka kekosongan anggota itu diisi dengan wali yang lainnya, pendapat ini agak mendekati kebenaran.

 

2.   Golongan Moderat.

 

Karena jumlah para wali yang tidak sedikit itu, sudah barang tentu pendapat dan pendiriannya atas sesuatu masalah tidak sama pula. Hal itupun adalah wajar, karena sejak dahulu kala, setiap kepala mempunyai pendapat yang selalu tidak harus sama di dalam menanggapi obyek yang sama, terutama bila menyangkut masalah sikap. Demikian pula halnya dalam masalah dakwah dan pelaksa naannya di kalangan masyarakat Jawa ketika itu.

 

Di dalam menghadapi masyarakat Jawa dengan latar belakang kebudayaan Hindhu Budha, Jawaisme, atau animisme dinamisme, dengan latar belakang masyarakat pluralistik dalam arti keragaman budayanya, maka taktik dan strategi serta methode dakwah Islamiyah menghadapi masalah, yang tentunya masalah ini meng undang perbedaan sikap. Dalam segi inilah cara dakwah para wali dilaksanakan dalam dua cara, yakni cara moderat dan "keras".

 

GOLONGAN MODERAT, cara penyampaian dakwahnya bisa berkompromi dengan adat istiadat setempat, dan terkadang isi nya, artinya materi permasalahannya, yakni hukum-hukum agama nya terkadang amat "ramah" terhadap kepercayaan lama. Cara dakwahnya lunak, isi hukumnyapun "dilunakkan," disesuaikan dengan situasi dan kondisi setempat ketika itu, dan terkadang berkompromi atau bahkan terjadi "synkretisme" dengan adat dan kepercayaan lama. Semua itu dengan alasan bahwa bila rakyat dihantam dan "diserang" kepercayaannya, tentulah mereka lari terbirit-birit dari Islam, apalagi mau mendekat. Maka adat istiadat rakyat haruslah dihormati, jangan diberantas, tetapi hendaknya dipelihara sebagai suatu kenyataan. Dengan demikian maka dakwah harus diselaraskan dengan kepercayaan lama.

 

Adapun cara merubah nya bila adat lama itu jelas bertentangan dengan Islam, adalah dengan sedikit demi sedikit, memberi warna baru kepada yang lama, mengikuti sambil mempengaruhi, yang nantinya bila masyarakat telah mengerti dan faham masalahnya, tentulah mereka nanti akan membuang sendiri mana yang tidak perlu dan merombak atau menghilangkan sendiri mana yang tidak sesuai dengan Islam. Dalam hal ini para wali yang bersikap moderat itu bertindak sebagai mengikuti dari belakang sambil mempengaruhi (tut wuri handayani) atau mengikuti kebudayaan lama sambil mengisi dengan jiwa Islam (tut wuri hangiseni).

 

GOLONGAN YANG "KERAS" yakni golongan kedua, berpendapat lain. Golongan ini amat idealis, yang berpendapat bahwa rakyat atau ummat haruslah dibimbing dan dituntun untuk menjalankan dan mengamalkan ajaran Islam yang lurus menurut aslinya, yakni yang asli bersumber dari Al Qur'an dan Sunnah Rasul. Adat istiadat rakyat dan kepercayaan mereka yang tidak sesuai dan tidak cocok atau bertentangan dengan Islam yang asli hendaknya dirombak dan diberantas. Sisa-sisa lama, adat istiadat dan kepercayaan Hindhu Budha dan Jawaisme serta animisme dinamisme yang dikatakan sebagai tahayyul, gugon tuhon dan khurofat itu haruslah diberantas dan dilenyapkan dari ummat yang telah memeluk agama Islam. Bila orang ingin dan berkehendak memeluk Islam, maka hendaklah Islam yang bernar, yang asli sesuai dengan aslinya dalam Al Qur'an dan Sunnah Rasul, jangan campur aduk dengan agama dan kepercayaan lama.

 

Golongan kedua ini tidak dapat menerima alasan golongan pertama yang katanya demi "hikmah kebijaksanaan" maka untuk memikat rakyat, janganlah keras yang disampaikan kepada rakyat, tetapi yang "lunak" karena rakyat tentulah tidak mau mengunyah yang keras karena belum "saatnya makan yang keras". Besuk kalau rakyat sudah faham akan agama Islam, mereka akan memberantas yang batil yang selama ini mereka jalankan dan mereka percayai. Golongan kedua tidak dapat menerima alasan golongan pertama ini, karena bila pada awal perkenalan telah terlukis kesan di hati mereka bahwa memang "model" itulah yang mereka terima dari para muballigh yang menanamkan Islam pada alam pikiran dan dunia ummat, maka sukarlah rakyat atau ummat menghapuskan nya. Mereka tetap meyakini model pertama, karena sesungguhnya perkenalan pertama itulah yang mengesan dan tertanam di lubuk hatinya, dan model pertama itulah yang mereka anggap benar. Maka sukarlah mereka mengubahnya , bagaikan kendaraan yang telah terlanjur berjalan 120 km. per jam di atas jalan raya, sukar dibelokkan dengan tiba-tiba walaupun sopirnya amat piawi. Coba lah nanti kalau rakyat telah terlanjur meyakini yang salah, maka yang salah itu telah turun temurun, dan mereka tiada mengerti maksud yang sebenarnya dari para muballigh yang dahulu dakwah nya hanyalah sebagai taktik dan strategi belaka, bukan tujuan akhir yang dicapai, maka siapakah yang dapat merubah yang telah terlanjur diyakini ummat dengan fanatik itu ? Tentulah amat sukar merubahnya, dan tentulah akan menimbulkan problem-problem yang baru lagi.

 

Golongan pertama menuduh golongan kedua sebagai terlalu ekstrim, tak tahu situasi dan kondisi, tak pandai-pandai membawa kan diri, tak mengerti hikmah kebijaksanaan, dan masih banyak lagi.

 

Sebaliknya golongan kedua menuduh kepada golongan per tama sebagai tidak konsekuen dalam menjalankan perintah agama Islam, ingin memalsukan agama Allah, berkompromi dengan kaum batil, mencampur yang. haq dengan yang. batil, Islam palsu dan sebagainya.

 

Golongan pertama dipimpin  oleh Sunan Kalijaga, dengan para pengikutnya antara lain  :

1. Sunan  Bonang.

2. Sunan Muria.

3. Sunan Kudus.

4. Sunan Gunung Jati.

 

Golongan kedua dipimpin oleh Sunan Giri, dengan pengikut    :

1.   Sunan Ampel.

2.   Sunan Drajat.

Selanjutnya golongan pertama disebut GOLONGAN / ALIR— AN. TUBAN atau ISLAM ABANGAN, dan golongan kedua di sebut GOLONGAN / ALIRAN ISLAM PUTIHAN

 

Demikianlah, istilah aliran Islam Abangan dan aliran Islam Putihan menurut awal ceritanya, dan selanjutnya istilah Kaum Abangan ini berlaku bagi mereka yang mengikuti falsafah wihdatul wujudnya Siti Jenar. Dan terakhir, hingga sekarang ini istilah kaum Abangan diganakan bagi mereka yang tidak mau menjalankan syari'at Islam, yaitu bagi mereka yang hanya Islam statistik saja.

 

Maka istilah aliran Islam Abangan dalam buku ini hanyalah digunakan untuk memberi gelar atau nama bagi golongannya Sunan Kalijaga yang ketika hidupnya menggunakan taktik da'wah secara menyesuaikan diri dengan keadaan lingkungan, jadi cuma berlaku pada jaman Sunan Kalijaga atau hanya berlaku dalam jaman kerajaan Islam Demak saja, atau jelasnya pada jaman Wali Sanga itulah.

 

Nah, telah jelaslah menurut uraian di atas, bahwa Sunan Muria mengikuti aliran Islam Abangan atau aliran Tuban atau mengikuti golongan yang moderat di dalam menerapkan ajaran Islam kepada masyarakat ketika itu.

 

3.   Ikut   Mendirikan    dan   Merestorasi   Masjid   Agung  Demak.

 

Menurut Solihin Salam dalam bukunya "Sekitar Wali Sanga" Sunan Muria ikut pula mendirikan Masjid Agung Demak. *) Ka-rena beliau adalah putera Sunan Kalijaga, maka tentu saja ketika Masjid Agung Demak didirikan pada tahun 1477 hingga tahun 1479 M, beliau masih muda.

Tentang berdirinya Masjid Demak itu sendiri terdapat per bedaan pendapat, antara lain pendapat-pendapat itu ialah :

 

1.   Menurut candera sengkala "Naga Salira Wani" berasal dari pengambilan gambar petir di pintu tengah Masjid Demak, adalah tahun 1388 Saka atau tahun 1466 Masehi.

2.   Ada yang mengatakan bahwa berdirinya Masjid Agung Demak itu pada tahun 1401 Saka atau tahun 1479 Masehi, berdasarkan gambar binatang bulus (penyu) di dalam tembok pengimaman (mihrab) Masjid Demak, karena gambar bulus itu diartikan sebagai berikut:

 

Kepala bulus    = 1.

Empat kakinya = 4.

Badan bulus     = 0.

Ekor bulus       = 1.

 

3.   Ada lagi yang mengatakan bahwa berdirinya Masjid Agung Demak, berdasarkan tulisan dalam bahasa Jawa yang ter pancang di pintu muka sebelah atas, bunyinya adalah "Hadegipun Masjid yasanipun para wali, nalika tanggal 1 Dzulka'idah tahun 1428," yakni bertepatan pada hari Kamis Kliwon malam Jum'at Legi, atau tahun 1501 Masehi.

 

4.   Menurut "Serat Kan da", jadinya Masjid Demak pada tahun 1329 Saka atau tahun 1407 Masehi. Ini lebih tidak masuk akal, karena menurut catatan yang dapat dipercaya, Raden Patah mulai menjadi raja adalah sekitar tahun 1477 Ma­sehi atau setelah tahun tersebut. Kalau demikian jarak waktu antara mendirikan Masjid Demak (tahun 1407 menurut "Serat Kanda") dengan diangkatnya Raden Patah menjadi raja (yakni tahun 1477) adalah selisih 70 tahun. Jadi jarak waktu antara mulai menetapnya Raden Patah (berdomisili) dari Palembang ke Demak, dengan saat diangkatnya menjadi raja ada lebih dari setengah abad. Waktu 70 tahun adalah terlalu lama bagi jarak antara berdirinya Masjid dengan di angkatnya menjadi raja.

 

5.   Menurut buku "Babad Demak," berdirinya Masjid Agung Demak itu dapat diambil dari arti kata-kata "Lawang Trus Gunaning Janma," yang menunjukkan angka tahun Saka 1399 atau bertepatan tahun 1477 Masehi. Bila keterangan ini disesuaikan dengan tahun yang terkandung dalam lambang bulus, agak mendekati kebenaran, karena mungkin tahun 1477 itu mula meletakkan batu pertama, dan jadinya adalah padatahun 1479. **)

 

Menurut berita klenteng Sam Po Kong Semarang, Masjid Demak pernah direstorasi pada tahun 1481 Masehi. Ketika itu yang ikut membangun lagi (memugar) Masjid Agung Demak ada lah Sunan Kalijaga, Sunan Bonang, dan Sunan Drajat. Diperkira kan, mungkin juga ketika merestorasi Masjid Agung Demak pada tahun 1481 atau selebihnya itu Sunan Muria ikut juga membantuny a, bersama-sama ayah beliau yakni Sunan Kalijaga, walau pun ketika itu beliau, Sunan Muria masih dalam usia muda.

 

4.   Sunan Muria Penyokong setia Dinasti Demak.

 

Di dalam bukunya Solichin Salam "Setotar Wali Sanga"juga dikatakan bahwa Sunan Muria adalah penyokong yang setia dari dinasti kerajaan Demak. Sebagaimana diketahui, kemelut Demak akibat pembuhuhan dan perebutan kekuasaan di antara kerabat Demak sendiri melibatkan sementara anggotaWali Sembilan, antara lain Sunan Giri, Sunan Kalijaga dan Sunan Kudus, Sejak iwalnya memang Sunan Muria telah menjadi penyokong kerajaan Islam Demak dengan setia.

 

Sejak Raden Patah menjadi Sultan Demak I hingga mening-galnya tahun 1518 M (tidak diceritakan ketika Raden Patah mulai menjadi raja Demak, di mana dan bagaimana Sunan Muria ketika itu), hingga Pangeran Sabrang Lor (Sultan Demak II, 1518 — 1521M), hingga Sultan Trenggana (Sultan Demak III, 1521 — 1546 M) hingga jaman kemelut Demak antara Sultan Hadiwijoyo dengan Aria Penangsang, Sunan Muria selalu menyokong dinasti Demak.

 

Sedikit tentang kemelut Demak, adalah dimulai ketika Sultan Demak (Pangeran Sabranglor) meninggal dunia digantikan oleh Raden Trenggana menjadi Sultan Demak III. Padahal berhubung Pangeran Sabranglor (putera Raden Patah) tidak meninggalkan keturunan, maka yang berhak menjadi raja menggantikan Sabrang­lor adalah adiknya yang tertua, yakni Pangeran Sekar Sedalepen. Tetapi karena Raden Trenggana (adik Pangeran Sekar Sedalepen) juga ingin menjadi raja, maka putera Raden Trenggana yang berna ma Pangeran Mukmin alias Sunan Prawoto menghabisi nyawa pamannya, Pangeran Sekar Sedalepen. Dengan demikian maka yang naik tahta menjadi Su'tan Demak III bukan Pangeran Sekar Sedalepen tetapi ayah Su an Prawoto, yakni Raden Trenggana.

 

Tentu saja, putera Pangeran Sekar Sedalepen yang bernama Aria Penangsang atau Aria Jipang Panolan amat dendam terhadap Sultan Trenggana. Dan setelah Sultan Trenggana wafat, maka Aria Penangsang berhasil membunuh Sunan Prawata, putera Sultan Trenggana. Memang Aria Penangsang merasa bahwa dialah yang berhak memegang tampuk pimpinan kerajaan Islam Demak, karena sebetulnya yang menjadi Sultan menggantikan kakeknya (Raden Patah) adalah ayahnya, yakni Pangeran Sekar Sedalepen.

 

 

Perlu diketahui bahwa Sultan Trenggana (Sultan Demak III) meninggalkan enam orang anak, yakni :

  1. Pangeran Mukmin alias Sunan Prawata, yang dahulunya telah membunuh pamannya yang bernama Pangeran Sekar Sedalepen (ayah Aria Penangsang), maka dengan dibunuhnya Pangeran Sekar Sedalepen ini mahkota kerajaan jatuh kepada ayah Sunan Prawata yakni Sultan Trenggana. Oleh Sunan Kalijaga, Sunan Prawata ini disarankan mengundurkan diri dari gelanggang politik dan agar menjadi Sunan saja, tetapi Sunan Prawata ini tetap berhasil dibunuh oleh Aria Penangsang yang memba-las dendam atas kematian ayahnya.
  2. Ratu Mas (puteri), menjadi isteri dari Pangeran Langgar dari Madura.
  3. Ni Mas Ratu Kalinyamat, isteri Pangeran Hadiri, yang kemudian Pangeran Hadiri ini diangkat menjadi Adipati di Kalinyamat Jepara. Akhirnya Pangeran Hadiri inipun dapat dibunuh oleh kaki tangan Aria Penangsang.
  4. Puteri, yang akhirnya menjadi isteri :dari Pangeran Pasarean (Putera Syarif Hidayatullah dari Cirebon).
  5. Nyi Sultan Pajang, ini adalah puterinya yang paling bungsu, yang akhirnya menjadi isteri Joko Tingkir alias Mas Karebet alias Pangeran Hadiwijaya, Adipati Pajang.
  6. Pangeran Timur, puteranya yang paling bungsu, yang kemudian menjadi Bupati Madiun.

 

Setelah Sunan Prawata terbunuh oleh Aria Penangsang, pute­ranya Sunan Prawata yang bernama Pangeran Aria Pangiri dilin dungi oleh Pangeran Hadiri (suami Ratu Kalinyamat) di Jepara, agar tidak dibunuh oleh kaki tangan Aria Penangsang yang dendam nya masih berkobar itu. Juga putera laki-laki Sultan Trenggana yang tinggal satu-satunya yang lelaki, yakni Pangeran Timur, yang belum cukup dewasa, juga diasuh oleh Pangeran Hadiri di Jepara. Walaupun kedua anak lelaki yang keduanya belum dewasa itu her hak menjadi raja, tetapi Ratu Kalinyamat beserta Sunan Giri cenderung bahwa yang berhak menggantikan Sunan Prawata adalah Pangeran Pangiri, bukan Pangeran Timur.

 

Alkissah, ketika Pangeran Hadiri bersama isterinya, Ratu Kalinyamat bersedih atas kematian Sunan Prawata, dan keduanya pergi mengadukan peristiwa pembunuhan itu kepada sunan Kudus, rupa-rupanya Sunan Kudus memihak kepada Aria Penangsang. Sunan Kudus berpendapat bahwa yang berhak menggantikan Pangeran Sabranglor (Sultan Demak II) adalah adiknya yang tertua (adik cer) yakni Pangeran Sekar Sedalepen, dan kemudian yang menggantikan Pangeran Sekar Sedalepen adalah puteranya, yakni Aria Penangsang. Dengan demikian maka sejak semula Sunan Kudus menyalahkan pembunuhan terhadap Pangeran Sekar Seda­lepen.

 

Di dalam perjalanan pulangnya dari Kudus itu, kaki tangan Aria Penangsang berhasil membunuh Pangeran Hadiri, suami Ratu Kalinyamat. Dan untunglah, ketika itu Ratu Kalinyamat berhasil meloloskan diri dari pembunuhan. Mulai saat itu juga Ratu Kali­nyamat bersumpah bahwa ia akan tetap bersamadi di bukit Dana raja, Jepara, selama Aria Penangsang belum dapat terpenggal kepalanya.

 

Memang Aria Penangsang menyebarkan para algojonya untuk membunuh orang-orang yang dikira dapat menghalanginya menja­di raja Demak. Setelah Sunan Prawata dan Pangeran Hadiri berhasil dibunuhnya, maka satu-satunya tokoh yang akan dihabisi nyawanya adalah menantu Sultan Trenggana yang bernama Pangeran Hadiwijaya. Sebab Aria Penangsang mendengar berita burung bahwa konon kabarnya Sunan Kalijaga telah mencalonkan Pangeran Hadiwijaya ini menjadi Sultan Demak atau menjadi Raja Islam di Jawa menggantikan Sultan Trenggana.

 

Adapun kedua anak lelaki yang masih belum umur, yakni Pangeran Pangiri dan Pangeran Timur (masing-masing putera Sunan Prawata dan putera bungsu Sultan Trenggana), kedua anak itu di abaikan oleh Aria Penangsang, karena keduanya masih belum cukup umur.

 

Tetapi akhirnya Pangeran Aria Penangsang berhasil dibunuh oleh Sutawijaya, putera Pangeran Hadiwijaya. Dengan matinya Aria Penangsang, maka Pangeran Hadiwijaya naik tahta menjadi raja, berkedudukan di Pajang. Mulai saat itu berpindahlah kerajaan Demak ke Pajang. Artinya hapuslah kerajaan Demak dan berdirilah kerajaan Pajang, sebagai pelanjut belaka dari Demak.

 

Di dalam peristiwa di atas, yakni kemelut Demak, Sunan Kalijaga dan Sunan Giri memihak Bintoro Demak, dan tentu saja termasuk Sunan Muria. Sunan Giri berpegang pada kenyataan, bahwa nyatanya Sultan Trenggana yang berhasil menjadi Sultan Demak III maka setelah Sultan Trenggana meninggal dunia, dengan sendiri nya puteranya yang naik tahta, yakni Sunan Prawata, walaupun konon Sunan Kalijaga menyarankan agara Sunan Prawata mengundurkan diri dari dunia politik. Di antara alasan Sunan Kalijaga berpendapat demikian ialah karena nama Sunan Prawata telah jatuh atau "jelek" menurut pengamatan para Wali dan masyarakat. Dan Sunan Kalijaga cenderung kepada pribadi Pangeran Hadiwijaya (menantu Sultan Trenggana) saja yang menggantikan ayah mertua nya itu.

 

Walaupun dalam masalah taktik dan strategi dakwah, Sunan Kudus menjadi pengikut atau penyokong aliran Sunan Kalijaga, tetapi dalam bidang politik Sunan Kalijaga lebih menyetujui bila kerajaan Islam pusatnya di Demak saja, tidak di Mataram.

 

Demikianlah latar belakang politik dari kemelut Demak ini diuraikan agak panjang, biar jelas dan dengan latar belakang politik yang demikian itu, Sunan Muria selalu memihak dinasti Dernak Bintoro. Artinya Sunan Muria selalu mendukung Raden Patah, Sultan Trenggana beserta keturunannya.

 

 

 

Alamat Kantor

Perum Pankis Griya - Rumah No.1

Jl. Pakis Raya, RT.01/06, Jepang Pakis

Jati, Kudus, Jawa Tengah,

Indonesia - 59342

 

Staf Admin 1 - Intan

085362627774

cs.parapsikologi@gmail.com

Yahoo! Messenger

 

Staf Admin 2 - Fahri

082223338772

spiritualpower88@gmail.com

Yahoo! Messenger

 

Untuk respon cepat silahkan

Telepon/SMS

 

Jam Kerja

Senin-Sabtu, pukul 08:00-16:00 WIB

Sebelum datang, telepon dulu.

 

Praktek Supranatural Resmi

Terdaftar di Dinas Kesehatan & Kejaksaan

STPT DINKES: 445/515/04.05/2012

KEJARI: B-18/0.3.18/DSP.5/12/2011

Lihat Bukti Legalitas - Klik Disini